
Singkong keju akan sering kali pembaca temukan. Jajanan yang satu ini sangat mudah kalian temukan.Baik sebagai salah satu pilihan menu di penjual gorengan lainya seperti bakwan, gehu dan lain-lain.Atau dari penjual yang khusus menjual jajanan satu ini. Bagaimana pun, pada intinya jajanan ini telah sangat mudah kalian temukan.Biasanya, jajanan ini berupa singkong kering kering yang ditaburi keju saat penyajian akhirnya.Alhasil, jajanan ini mempunyai cita rasa yang khas.
Namun, siapa yang sangka kalau ternyata jajanan yang tergolong pada gorengan ini punya makna filosofis yang cukup mendalam. Penasaran? Mari coba kita bedah tipis-tipis melalui tulisan ini.
Tentang Singkong
Rasanya, sangat mustahil orang Indonesia tidak mengetahui hasil bumi satu ini. Sebab, tanaman ini sangat mudah masyarakat Indonesia temukan.
Tanaman singkong yang tergolong pada umbi-umbian ini sangat mudah untuk tumbuh. Saking mudahnya, tanaman singkong ini sampai menginspirasi salah satu lagu terkenal dari Koes Plus. “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Nah, tongkat dalam potongan lirik tersebut adalah singkong. Seperti dalam lagu tersebut, proses penanaman singkong tidak rumit. Hanya dengan menancapkan potongan pohonnya, tanaman ini akan tumbuh dengan sendirinya.
Nah, karena kemudahan tumbuhnya,dari dulu sampai sekarang singkong bisa jadi salah satu makanan pokok. Hal demikian juga terdukung dengan kenyataan bahwa singkong adalah salah satu sumber karbohidrat. Namun, sayangnya, singkong kerap kali teranggap sebagai makanan kampung. Memang, kenyataan itu tidak bisa ditampik, bahwa banyak orang kampung yang mengkonsumsi singkong. Karenanya, singkong seringkali terkaitkan sebagai simbol orang kampung.
Hal ini terbukti dengan pemakaian istilah singkong untuk orang kampung. Misal, julukan untuk Chairul Tanjung, si anak singkong. Julukan itu ingin menekankan bahwa salah satu pengusaha sukses ini berasal dari kampung. Bukan tumbuh di kota dan kaya raya dari warisan orang tua. Kurang lebih, begitulah ulasan tentang singkong.
Makanan Mewah Bernama Keju
Lain halnya dengan singkong, keju adalah makanan yang berasal dari barat. Dulu, makanan hasil fermentasi susu ini hanya bisa terjangkau oleh kalangan atas dan bangsawan. Terlebih, produksi keju yang terbatas juga menjadikan makanan ini mempunyai harga yang mahal. Hasilnya, keju menjadi sebuah makanan yang melambangkan kalangan dengan tingkat ekonomi tinggi.
Singkong Keju, Kompromi Lokal-Barat
Dari uraian kedua makanan tadi jelas terlihat bahwa dua makanan tersebut mempunyai kontradiksi yang cukup jauh. Membandingkan keduanya, seolah-olah membandingkan hitam dan putih. Berbeda 360 derajat. Yang satu berasal dan populer di kalangan lokal Indonesia. Satu lagi berasal dari barat dan hasil olahan.
Ketika yang satu identik dengan kalangan kampung, yang lain identik dengan kalangan konglomerat. Namun, siapa sangka, ternyata ketika kedua makanan itu dikolaborasikan, hadir sebuah menu baru dengan rasa yang lezat. Ternyata, singkong keju punya pesan yang cukup dalam. Kurang lebih, pesannya seperti ini. Dengan kompromi, bahkan dua hal yang kontradiktif pun akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.